Bangkitnya Kraton Pajang

foto oleh : Stefanus Ajie

Bangkitnya Kraton Pajang

Abdi_Dalem_dan_Trah_Kraton_Pajang_ikut_dalam_Rombongan_Kirab.jpg

Jaka Tingkir dan Sejarah Singkat Pajang

Dikisahkan, bersamaan dengan digelarnya pertunjukan wayang beber, lahirlah putra dari Ki Ageng Pengging yang diiringi oleh hujan lebat, angin kencang dan sebuah pelangi. Jabang bayi itu begitu rupawan, wajahnya bersinar cerah menyiratkan kecemerlangan manusia yang luhur derajatnya. Begitulah kesan yang ditangkap oleh mata batin Ki Ageng Tingkir, saudara dari Ki Ageng Pengging, saat pertama kali menimang bayi yang diberi nama Mas Karebet tersebut.

Mas Karebet harus kehilangan orang tuanya saat masih begitu muda. Konflik yang terjadi antara Sultan Bintara di Demak dengan Ki Ageng Pengging berujung pada tewasnya Ki Ageng Pengging di tangan Sunan Kudus. Ki Ageng dicurigai membelot dari Demak dengan dua alasan, yaitu karena tidak berkenan menghadap raja dan menjadi murid dari Syeh Siti Jenar yang ajarannya dianggap sesat oleh para wali. Semenjak peristiwa itu, Mas Karebet diasuh oleh Nyi Ageng Tingkir dan diberi gelar Jaka Tingkir.

Saat dewasa Jaka Tingkir justru mengabdi di Kraton Demak. Jaka Tingkir mendapatkan simpati Raja Demak ketika berhasil mengalahkan Kebo (kerbau) Danu yang mengamuk memporak-porandakan seluruh isi kota. Keonaran dari Kebo Danu sebenarnya siasat yang dirancang sendiri oleh Jaka Tingkir. Karena jasanya, Jaka tingkir diangkat menantu oleh Sultan Trenggana-Raja Demak dan diberi wewenang sabagai Bupati di Pajang. Wilayah Pajang waktu itu meliputi Klaten, Boyolali dan Salatiga dimasa sekarang.

Sunan Prawoto diangkat menjadi Raja Demak menggantikan Sultan Trenggana yang telah tutup usia. Kekuasaan Sunan Prawoto tidak bertahan lama. Beliau tewas dalam sebuah peristiwa pemberontakan yang dipimpin oleh Arya Penangsang yang masih sepupunya sendiri. Jaka Tingkirlah yang berhasil menumpas pemberontakan Arya Penangsang sekaligus menjadi penguasa di Demak. Jaka Tingkir memindahkan pusat kerajaan di Pajang dan menjadi raja baru dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Kelak, dari Kraton Pajang inilah yang akan melahirkan babak baru intrik kekuasaan di tanah Jawa, dengan munculnya Mataram. Pajang menjadi jembatan yang menghubungkan Majapahit, Demak dengan raja-raja Jawa yang masih ada sampai sekarang ini di Kraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Gunungan_Kirab_Ageng_Kraton_Pajang.jpg   Gunungan Kirab Ageng Kraton Pajang 

Grebeg Agung Kraton Pajang

Kini sisa-sisa Kraton Pajang hanya tinggal berupa petilasan kecil yang terletak di Desa Makam Haji, Sukoharjo, Jawa Tengah. Bangunan asli dari Kraton Pajang bisa dikatakan hampir tidak dapat ditemukan lagi. Sebuah makam yang berisi kerabat Kraton Pajang dan sebuah pemandian kecil di tepi sungai di bawah rindangnya pohon beringin tua menjadi penanda keberadaan Kraton Pajang. Sebuah pendopo sederhana dibangun ditempat tersebut dengan dihiasi berbagai lambang-lambang dan panji dari Kraton Pajang serta silsilah Kraton Pajang dari era kerajaan-kerajaan sebelumnya.

Pasukan_Kraton_Kasunanan_Surakarta_Mengawal_Jalanannya_Kirab.jpg    Pasukan Kraton Kasunanan Surakarta mengawal jalannya kirab 

Pajang di masa kini diharapkan tidak hanya sekedar petilasan dan setumpuk kisah legenda dari para pendirinya. Diperlukan upaya untuk kembali membangkitkan Kraton Pajang agar bisa memberi edukasi yang lebih luas tentang kisah, keberadaan dan pengaruh dari Kraton Pajang terhadap sejarah jawa dan sejarah bangsa ini secara umum. Demi mewujudkan hal tersebut, kerabat dan keturunan Kraton Pajang yang tergabung dalam Paguyuban Petilasan Kasultanan Keraton Pajang menggelar sebuah kegiatan awal berupa Grebeg Agung Pajang. Acara tersebut juga diselenggarakan sebagai wujud pelestarian busaya serta mengumpulkan kembali para trah keturunan Kraton Pajang.

Mengiring_Panji_Panji_Kraton_Pajang.jpg   Mengiring Panji-Panji Kraton Pajang 

Seperti pada acara grebeg pada umumnya, Grebeg Agung Kraton Pajang juga mengirabkan dua buah gunungan, berjalan mengelilingi jalan-jalan kecil di Kampung Pajang. Rombongan kirab dipimpin oleh sepasukan Prajurit Kraton Kasunanan Surakarta lengkap dengan seruling yang memainkan lagu khas "terik tempe" dengan iringan tambur dan genderang. Ikut juga dalam kirab, rombongan sesepuh Pajang dengan membawa beberapa benda pusaka Kraton Pajang, para abdi dalem kraton, rombongan kesenian reog dan jathilan. Sesampai di depan petilasan Kraton Pajang, gunungan sudah ditunggu-tunggu oleh para masyarakat sekitar untuk diperebutkan isinya.

Berebut_Gunungan.jpg   Berebut Gunungan 

Gunungan dalam Grebeg Agung Kraton Pajang berupa gunungan jaler dan estri (laki-laki dan perempuan) yang dihiasai dengan berbagai hasil bumi utamanya yang berupa "polo kependem" (umbi-umbian) semacam ketela dan singkong. Ketela dan singkong dipilih sebagai bahan utama karena di desa sekitar Pajang sejak dulu sudah terkenal sebagai penghasil umbi-umbian yang sangat bermutu tinggi. Hal tersebut juga memberikan nilai filosofi, bahwa sesuatu yang terkubur, tak tampak mata, bisa mempunyai manfaat yang tinggi pula. Seperti keberadaan Kraton Pajang yang dimasa kini seolah terpendam, tersembunyi di gugusan zaman, jika bisa diangkat dari keadaannya yang tidak terlihat, maka akan bisa memberikan manfaat dimasa kini, baik dari sisi edukasi sejarah, artefak sejarah, pelestarian budaya maupun potensi wisata. Salam Kratonpedia.

Kelompok_Kesenian_Reog_Memeriahkan_Upacara_Grebeg.jpg    Kelompok kesenian Reog memeriahkan upacara grebeg 

Kirab_Mengelilingi_Jalan_jalan_kecil_di_Kampung_Pajang.jpg   Kirab mengelilingi jalan-jalan kecil di Kampung Pajang 

Berbagi_Hasil.jpg   Berbagi hasil 

Anak_anak_Ikut_Berebut_isi_Gunungan.jpg   Anak-anak ikut berebut isi gunungan 

Salah_Satu_Sudut_Petilasan_Kraton_Pajang.jpg    Salah satu sudut petilasan Kraton Pajang 

(teks dan foto : Stefanus Ajie/Kratonpedia)

Pin It

Foto terkait

Artikel terkait