Candi Gunung Wukir: Pembuka Celah Sejarah Dinasti Mataram Kuno

foto oleh : agusyr

Candi Gunung Wukir: Pembuka Celah Sejarah Dinasti Mataram Kuno

Keberadaan candi-candi di seputar Kota Yogyakarta, tentu bukan suatu kebetulan belaka. Peninggalan purbakala itu menunjukkan adanya peradaban dan kerajaan-kerajaan kuno jauh sebelum Kota Yogyakarta berdiri. Sebagian dari peradaban dan kerajaan-kerajaan ini dikenali sebagai Dinasti Mataram Kuno. Jadi, istilah Mataram yang saat ini identik dengan keberadaan Keraton Kasultanan Yogyakarta, sebetulnya sudah ada sejak ratusan tahun sebelum Kota Yogyakarta berdiri.

Dinasti Mataram Kuno hanyalah sebagian dari peradaban masyarakat Jawa Kuno. Peninggalan purbakala sebagai bukti peradaan masyarakat Jawa Kuno, tersebar di berbagai tempat dalam bentuk candi-candi. Bangunan candi sebagai bagian dari peradaban masyarakat Jawa Kuno, mulai dikenal setelah masuknya pengaruh Hindu dan Buddha pada awal-awal abad Masehi.

Candi Gunung Wukir juga sering disebut Candi Canggal sesuai nama dusun dimana candi ini berada, di wilayah Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Situs bernuansa Hindu yang terletak di puncak bukit ini menjadi istimewa karena disinilah ditemukan Prasasti Canggal, prasasti tertua yang bisa sedikit menjelaskan peradaban Mataram Kuno.

Prasasti Canggal ditulis sekitar tahun 732 Masehi oleh Raja Sanjaya yang mendirikan candi ini sebagai tempat suci untuk memuja Dewa Siwa. Bukti pemujaan kepada Dewa Siwa dapat ditengarai dari adanya bentuk lingga, yoni dan arca Nandi. Pendirian candi sebagai tempat suci ini dapat dianggap sebagai tanda pendirian sebuah kerajaan. Dalam prasasti-prasasti yang ditemukan sesudah Prasasti Canggal, nama Sanjaya sebagai pendiri kerajaan ini lebih sering disebut sebagai Rakai Mataram, sesuai nama wilayah yang diperintahnya. Pada mulanya, Mataram adalah wilayah kecil yang diperintah oleh Sanjaya, yang kemudian dijadikan nama kerajaan yang didirikannya. Pusat pemerintahannya ada di Medang Bhumi Mataram. Dimana tempat ini sekarang, tidak dapat diketahui dengan pasti.

Raja Sanjaya atau Rakai Mataram kemudian digantikan oleh Pancapana yang bergelar Rakai Panangkaran. Nama ini tersebut dalam sebuah prasasti berangka tahun 778 Masehi yang ditemukan di dekat Candi Kalasan. Meski beragama Hindu, Rakai Panangkaran memenuhi permintaan guru-gurunya untuk membangun tempat suci bagi para pendeta Buddha di wilayah kekuasaannya. tempat suci itu kemudian dikenal sebagai Candi Kalasan, yang dibangun untuk pemujaan bagi Dewi Tara Bodhisatwa, sosok Dewi dalam agama Buddha Mahayana.

Bagaimana keadaan Kerajaan Mataram sepeninggal Rakai Panangkaran tidak diketahui dengan pasti. Yang diketahui hanyalah nama raja-raja yang memerintah sesudahnya. Berdasarkan Prasasti Mantiasih yang berangka tahun 907 Masehi, Rakai Panangkaran beturut-turut digantikan oleh : Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Rakai Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, Rakai Watu Humalang , dan yang terakhir Rakai Balitung, raja yang memerintahkan pembuatan prasasti ini.

Sejumlah prasasti lain menyebutkan 3 raja terakhir sebagai pengganti Rakai Balitung, yaitu Rakai Daksa, Rakai Tulodong dan Rakai Wawa.

Sekitar abad ke-10, Rakai Wawa sebagai raja terakhir kemudian digantikan oleh Empu Sendok, mantan mahapatihnya. Empu Sendok inilah yang dikenal telah memindahkan pusat kerajaan secara besar-besaran, dari Jawa tengah ke Jawa Timur, di penghujung abad ke-10.

Sejak saat itulah nama Mataram sebagai sebuah kerajaan menghilang dari catatan sejarah. Baru sekitar 6 abad kemudian, istilah Mataram kembali bersinar pada saat Panembahan Senopati mendirikan Dinasti Mataram Islam di Kotagede.

Sumber: Naskah Video dokumenter ‘Mysteries of the Ancient Java – Episode 1’ (Sutradara: Agus Yuniarso, Produksi: Galeri Video Foundation, Yogyakarta, 2006).

Pin It

Foto terkait

Artikel terkait