Pelesiran Solo

foto oleh : Wd Asmara

Pelesiran Solo

Delman_manahan.jpg

Kota Solo di saat Minggu pagi, menyusuri jalan Adisucipto dari arah bandara Internasional Adisumarmo yang membentang lurus dari pabrik gula Colomadu arah barat kota hingga palang pintu kereta persis di daerah Manahan , jalanan cukup lengang meski banyak kendaraan yang bergerak tidak terlalu kencang. Aktifitas jalanan sekitar Manahan banyak didominansi oleh pejalan kaki dan delman, sementara kendaraan bermotor lebih banyak parkir di sepanjang pinggiran jalan.

Dokar_manahan.jpg   Dokar (kereta kuda) meramaikan minggu pagi di Manahan 

Sunday market adalah sebutan untuk pasar kaget minggu pagi di komplek stadion Manahan, merupakan kegiatan favorit masyarakat Solo yang suka berolah raga atau sekedar jalan-jalan pagi di seputar komplek Stadion Manahan. Stadion ini dibangun pada tahun 1989 dan memiliki luas area 170 ribu meter persegi dengan luas bangunan 33 ribu meter persegi.

Konon dulu di daerah ini merupakan tempat untuk latihan memanah bagi bangsawan Kraton Solo. Dan dari situ seperti halnya daerah lain di lingkungan Kraton, penamaan tempat berdasarkan aktifitas yang berlaku di suatu daerah menjadikannya sebagai sebutan nama, dan jadilah daerah tersebut dengan nama Manahan.

Bubur_ayam_Manahan.jpg Bubur ayam dan dimsum baso, alternatif sarapan lezat di Manahan  

Perjalanan kembali diteruskan, kali ini melintasi sebuah palang pintu kereta yang terletak di sisi selatan stadion Manahan, kurang lebih 200 meter sampailah di lapangan Kota Barat yaitu daerah Mangkubumen yang dahulu merupakan tempat tinggal Mangkubumi. Kemudian lurus hingga sampai di simpang empat jalan Slamet Riyadi belok ke kiri melewati gedung Loji Gandrung atau rumah dinas Walikota Solo dengan gaya arsitektur Eropa yang dulunya milik orang Belanda bernama Yohanes Agustinus seorang pengusaha pertanian. Gedung ini dibangun pada masa pemerintahan Paku Buwono IV, yang berkuasa pada tahun 1788-1820.

Dari Loji Gandrung kemudian menyusuri jalan Slamet Riyadi hingga melewati “bangjo” ( sebutan untuk lampu lalu-lintas dari kata abang dan ijo atau merah hijau ) , tepat di sebelah kanan jalan terdapat Gedung Patung Slamet Riyadi yang masih asli dan kokoh, setelah itu sampai di Taman Sriwedari. Konon Sriwedari dibangun di atas tanah yang wangi, dahulu bernama Talangwangi. Pada tahun 1899 oleh PB X tanah ini dijadikan kebun taman milik kerajaan sebagai taman kota dan dahulu taman ini sangat indah jauh dari wujudnya sekarang. Dan dulu pun di sini terdapat kebun binatang yang kemudian dipindahkan ke taman Jurug yang terletak di wilayah timur kota Solo. Dan sampai saat ini yang menjadikan Sriwedari selalu hidup adalah adanya gedung pertunjukan wayang orang yang pertunjukannya dimulai setiap malam jam 20:00 dengan harga tiket Rp.3000.

Sate_kere_Yu_Rebi.jpg   Sate kere Yu Rebi 

Di dalam komplek sekitar area taman Sriwedari juga terdapat museum Radya Pustaka , Taman Hiburan Rakyat , stadion , pengrajin panah tradisional Mataraman , gerobak tahu kupat, sate jeroan sapi Yu Rebi , kios-kios buku bekas , pendopo kesenian dan galeri lukis seniman lokal.

Es_Puter.jpg   Es puter, jajanan yang selalu mangkal di depan pasar Ngarsopuro

Melewati pintu belakang taman Sriwedari dan melewati deretan kios buku bekas perjalanan dilanjutkan kembali ke arah barat atau sebelah kanan pintu keluar hingga sampai perempatan belok ke kiri , kurang lebih 1 km setelah memutari bundaran Baron kearah kanan menuju pasar Jongke dan pasar Gawok yang melewati jalan Dr. Radjiman , yang akan terlihat sepanjang kiri jalan terdapat mulut-mulut gang sebagai pintu masuk ke perkampungan Laweyan yang terkenal sebagai sentra batik kota Solo.

IMG_4073_1.JPG   Lukisan sang maestro keroncong Gesang di tembok daerah pasar Ngarsopuro 

Sampai di pertigaan lampu merah sebelum pasar Jongke , belok kanan menuju stasiun Purwosari yang merupakan stasiun kereta api tua di kota Solo. Stasiun tua ini lokasinya juga berdekatan dengan bekas pabrik es Sari Petojo yang berdiri sejak jaman pemerintahan Belanda dulu yang sudah berubah dan sayangnya akan dihancurkan dirubah menjadi bangunan modern untuk pusat perniagaan. Sepur Kluthuk Jaladara atau kereta api uap kuno buatan tahun 1920 juga dioperasikan dari stasiun tua ini. Stasiun Purwosari hingga kini masih menjadi akses favorit bagi warga Solo Raya yang juga disebut kawasan Sobosukawonosraten (Solo, Boyolali , Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten) untuk bepergian ke Yogyakarta menggunakan kereta api Pramek.

Dari stasiun Purwosari terbentang lurus rel yang melintas di jantung kota Solo yang persis berada di tepi kanan jalan Slamet Riyadi dan konon merupakan satu-satunya jalur rel di Asean yang masih aktif dan menempel pada jalur jalan utama kota. Sepintas jalur rel ini juga seolah-olah sebagai penanda batas keberadaan antara Kraton Praja Mangkunegaran dan Kraton Kasunanan Surakarta.

gladag_1_1.jpg   Aktifitas jatilan minggu pagi di Gladag (dekat alun-alun utara Kraton Kasunanan Solo) 

Sekitar radius empat sampai lima kilo meter dari stasiun Purwosari ke arah timur dengan menyusuri jalan Slamet Riyadi, selain dua titik Kraton Mangkunegaran yang berada di sebelah kiri jalan Slamet Riyadi dan Kraton Kasunanan yang berada di sebelah kanan, persis di perempatan pasar Pon arah kiri terdapat pasar Triwindu atau Ngarsopuro pusat barang antik dan barang lawasan. Di depan pasar Triwindu tepatnya pinggir jalan menuju Kraton Mangkunegaran, mangkal gerobak dorong yang menjual es puter, rasanya sangat klasik dan sedap, dengan perpaduan santan kelapa asli, serutan halus kelapa muda dan tape ketan menjadikannya sebuah paduan rasa yang sangat klasik gaya Solo. Gerobak es puter ini biasa mangkal persis di dekat lukisan Gesang di tembok tua depan pasar Triwindu.

Mas_Popop_pengrajin_panah_tradisional.jpg   Mas Popop pengrajin panah tradisional 

Perjalanan pelesiran kali ini berakhir dengan kembali ke arah Sriwedari tepatnya di kediaman Eddy Roostopo atau akrab dipanggil mas Popop yang tinggal persis di belakang gedung wayang orang Sriwedari dengan suasana rumah yang asri dan teduh. Mas Popop adalah mantan atlet panahan Nasional pada tahun 1977 yang sekarang lebih dikenal sebagai pembuat gendewo mataraman atau panah tradisional yang mulai langka. Rumah yang sekaligus digunakan sebagai bengkel kerja ini menjadi tempat yang menyenangkan untuk ngobrol seputar budaya dan sejarah Solo, apalagi soal jemparingan atau panahan. Sambil sesekali mempraktekan gaya memanah untuk memberikan contoh , terkadang obrolan juga diselingi dengan bunyi lengkingan mesin bubut listrik yang bergesekan dengan getasnya kayu sono bahan pegangan busur mataraman ini. Dan sambil belajar mengenal panah tradisional, cerita pelesiran Solo kali ini harus diakhiri dulu , karena masih akan ada lagi perjalanan pelesiran Solo berikutnya atau pelesiran di kota lain yang akan lebih menarik dan menantang.

sipa_4_1.jpg   Becak kota Solo berseri  

Jalan-jalan menyusuri jalanan sebuah kota dengan keragaman budaya dan keindahan pemandangan serta jajanan khasnya, tidak akan pernah cukup bila hanya diungkapkan dalam satu cerita, selamat jalan-jalan dan sampai jumpa dalam perburuan di kota berikutnya. Salam Kratonpedia.  

(teks dan foto : Wd Asmara/Kratonpedia) 

Pin It

Foto terkait

Artikel terkait