Berburu Ayam Kampung, Lezatnya Bikin Ngiler

foto oleh : Wd Asmara

Berburu Ayam Kampung, Lezatnya Bikin Ngiler

5.jpg

Mau liburan dan berburu kuliner lezat yang menggoda lidah?. Kita mulai saja perburuan kali ini dengan menjelajah wilayah timur pulau Jawa. Pernah mendengar atau malah pernah mencicipi lodho?.  Lodho adalah resep turun temurun masyarakat Tulungagung, sebuah Kabupaten yang berada di wilayah Propinsi Jawa Timur. Kota Tulungagung terletak 154 Km arah barat daya dari kota Surabaya. Pada jaman dahulu, berdasarkan cerita sejarah, Tulungagung merupakan wilayah kerajaan Kadiri dengan ibukotanya di kota Daha, yang kini kota Daha tersebut dikenal dengan nama kota Kediri.

Lodho merupakan olahan dari ayam kampung yang dimasak dengan bumbu rempah dan santan, mirip dengan opor dan kare. Tapi rempah yang digunakan ada perbedaannya, kalau olahan lodho tidak menggunakan kunyit, melainkan lengkuas dan sereh, sehingga aromanya sangat khas. Dan ayam yang digunakanpun harus ayam kampung, yang dimasak dalam keadaan utuh hanya dibelah tapi tidak terputus. Biasanya dimasak dalam wajan atau kendil (wadah besar terbuat dari gerabah) dan dimasak dengan tungku tanah liat dan kayu bakar. Proses memasak membutuhkan waktu satu setengah jam, baru kemudian ayam utuh tersebut diangkat dari kuahnya dan dipanggang dengan bara kayu atau arang hingga agak coklat kekuningan atau kadang lebih lezat kalau agak gosong sedikit.

Lodho adalah menu wajib bagi masyarakat Tulungagung untuk hidangan pesta perkawinan, perjamuan, upacara adat, dan syukuran. Bahkan di Kabupaten Ponorogo, lodho juga disajikan sebagai kelengkapan untuk upacara slametan, bentuknya seperti nasi tumpeng tapi tidak berbentuk kerucut, namun berbentuk setengah lingkaran tumpul, yang dikenal dengan nama ambengan atau nasi ambeng. 

7.jpg   Cara masak tradisional membuat rasa lodho semakin mantap.

8.jpg   Jam 4 pagi aroma rempah sudah menyebar dari dapur dan siap menggoda lidah. 

Penyajian lodho atau yang juga populer dengan nama nasi ayam lodho ini sangat khas, nasi yang digunakan adalah nasi gurih atau biasa disebut sego gurih, seperti nasi uduk yang populer di tanah Betawi. Dihidangkan dengan urap, sayuran yang dikukus atau direbus terlebih dahulu dan dicampur dengan sambal yang terbuat dari kelapa muda parut yang dibumbui cabai merah pedas dan dimasak dengan cara  dikukus terlebih dahulu. Sementara kuah santan sisa rebusan ayam lodho menjadi kuah terpisah yang disajikan melengkapi hidangan nasi gurih serta ayam dan urap.

Rasa lezat gurih dan pedas yang menggugah selera ini,  menjadi menu unggulan wisata kuliner selain pesona wisata alam yang terdapat di Kabupaten penghasil marmer ini. Nasi lodho banyak disajikan di beberapa tempat makan di kota Tulungagung,  mulai dari jalan Dr. Sutomo, jalan WR. Supratman, daerah Sukoanyar hingga di beberapa daerah sekitar kota. Harga perporsinyapun cukup terjangkau, satu porsi nasi ayam lodho rata-rata Rp.10.000, dan harga ayam lodho utuh berkisar antara Rp.50.000 sampai Rp.65.000.

Dan apabila petualangan dari kota Tulungagung diteruskan ke arah barat melewati Kabupaten Trenggalek, dengan menempuh jarak kurang lebih 83 Km, maka akan sampai ke Bumi Reyog, sebutan lain untuk kota Ponorogo. Di kota ini lodho juga populer dan mudah ditemukan di warung makan di beberapa jalan utama kota. Seperti di jalan MT. Haryono dekat persimpangan jalan Trunojoyo dan jalan Diponegoro yang berjarak sekitar 1.5 Km dari alun-alun kota Ponorogo, di jalan Batoro Katong arah ke kota lama Pasar Pon. 

2.jpg   Ayam lodho siap ditiriskan atau dipisahkan dari kuahnya. 

Lodho memang tidak sepopuler kuliner khas dari kota-kota lain di Indonesia, seperti gudeg Jogja yang masih bisa ditemukan di luar kota Jogja bahkan hingga ke mancanegara. Tapi bukan berarti itu karena rasanya tidak menggoda alias biasa saja, lodho dengan rasa gurih dan pedas dengan urap serta sego gurihnya memang cocok dan mudah dinikmati lidah orang Indonesia pada umumnya. Sungguh lezat, begitu penggambaran singkatnya, meskipun pada awalnya nasi lodho yang disajikan di Ponorogo adalah untuk nasi ambeng atau ambengan yang digunakan untuk kelengkapan kenduri, tapi kini menjadi kuliner yang bisa dinikmati sehari-hari. 

15.jpg   Sego gurih atau nasi gurih, menambah kelezatan lodho makin komplit. 

Dari kota Ponorogo bergerak lagi ke arah barat sekitar 35 Km memasuki wilayah Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Tepatnya di daerah Kecamatan Jatisrono, di daerah ini sajian ayam kampung yang tadinya di Tulungagung bernama lodho dengan dimasak memakai kuah santan pedas dan dibakar, di Jatisrono ini ada menu khas yang disebut ingkung.

Ingkung adalah sebutan untuk ayam kampung panggang dengan bumbu rujak atau bumbu pedas yang dimasak dengan cara tradisional menggunakan tungku gerabah. Persamaannya dengan lodho adalah cita rasa gurih pedasnya yang menyengat lidah.  Tapi ingkung tidak menggunakan lengkuas sebagai bumbu rempahnya, kemiri, kunyit dan cabe merah keriting menjadi keunikan khas dari rasa ingkung yang tekstur daging bagian dalamnya berwarna putih dan empuk jika dimakan selagi hangat. 

4.jpg   Sajian satu porsi nasi lodho lengkap dengan sego gurih. 

3.jpg   Sambal urap dari kelapa muda parut yang rasanya pedas dan gurih. 

Jika melintas di sepanjang jalan dari arah Ponorogo, saat memasuki wilayah Kecamatan Jatisrono dengan kotanya yang kecil dan hanya ramai pada saat hari pasaran tiba ini, bisa mulai perburuan dengan mencari warung ayam panggang Mbok Tiyem yang menjadi juaranya menu ingkung di daerah tersebut. Kalau lodho disajikan dengan urap pedas yang menyegarkan, sementara ingkung disajikan dengan sambal trasi matang yang menggoda lidah.

Ingkung masih dimasak dengan menggunakan cara tradisional, dan itulah yang membuat rasanya menjadi enak dan tekstur daging ayam kampungnya terasa empuk dengan bumbu gurih pedasnya yang meresap. Oven atau alat panggang yang digunakan adalah tungku dengan kayu bakar dan diatasnya diletakkan kendil atau semacam panci yang terbuat dari tanah liat. Hasil matangnya pas, dengan kulit luar ayam yang kering agak gosong dengan aroma asap dari kayu bakar, tapi tekstur daging dalamnya putih dan lembut, ditambah rasa gurih dan pedas yang mantap.

Meskipun tidak ada kaitan cerita bagaimana awalnya menu-menu ayam kampung ini bisa muncul mulai dari Tulungagung hingga Jatisrono yang masuk wilayah Propinsi Jawa Tengah, namun keberadaan lodho dan ingkung mempunyai kesamaan dalam kehadirannya sebagai pelengkap atau uborampe dalam upacara adat atau kenduri. Tapi terlepas dari itu, memang kelezatan rasa menu-menu yang diolah dari ayam kampung segar ini, pantas diburu karena rasa gurih dan pedasnya susah dihapus dari ingatan saat kita sudah mencicipinya.  Cerita lengkapnya akan terasa lebih gurih lagi kalau perburuan ini melengkapi perjalanan di penghujung tahun untuk menyambut datangnya hari baru, selamat jalan-jalan dan selamat makan-makan. Salam Kratonpedia. 

10.jpg   Membuat nasi ambeng atau ambengan untuk kenduri. 

11.jpg   Nasi gurih yang hangat dan lodho siap di racik menjadi ambengan. 

12.jpg   Ambengan terdiri dari nasi gurih dan urap, sudah siap ditambahkan lodho diatasnya. 

13.jpg   Nasi ambeng yang lezat siap disantap. 

16.jpg   Memasak ingkung atau ayam kampung panggang bumbu pedas.

17.jpg   Oven tradisional dari tanah liat. 

20.jpg   Ingkung dengan aroma asap kayu bakar. 

21.jpg   Tekstur bagian dalam daging ayam panggang atau ingkung yang empuk dan berwarna putih. 

19.jpg   Sambal trasi matang wajib menjadi teman menyantap ingkung yang hangat dan gurih.

18.jpg   Kulit garing dan agak gosong menambah cita rasa lezat sajian ayam kampung panggang ini. 

(teks dan foto : Widi Asmara/Kratonpedia)


Pin It

Foto terkait

Artikel terkait